


SORONG, 07 November 2025 – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Tambrauw turut menjadi saksi sejarah pembukaan Pesta Paduan Suara Gerejani Katolik (PESPARANI) Tingkat Provinsi Papua Barat Daya (PBD) yang pertama. Kepala Kantor Kemenag Tambrauw, Alexander Setitit, S.S, menghadiri langsung acara pembukaan yang dilangsungkan dengan khidmat di Gereja Katedral Kristus Raja, Kota Sorong.
Acara pembukaan PESPARANI perdana ini dibuka secara resmi oleh Gubernur Provinsi Papua Barat Daya, Elisa Kambu, S.Sos. Dalam sambutannya, Gubernur menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya kegiatan religius ini.
Gubernur Kambu menilai PESPARANI sebagai sarana yang strategis untuk mempererat pembinaan mental dan spiritual, khususnya bagi umat Katolik di seluruh wilayah Papua Barat Daya. Kegiatan ini juga menjadi wujud nyata kebersamaan dalam iman dan budaya yang memuliakan Tuhan.
Sebelum seremoni resmi, kegiatan diawali dengan Perayaan Ekaristi Pembukaan PESPARANI yang dipimpin oleh Pastor Emanuel Tenauw, Pr., bersama para imam se-Keuskupan Manokwari-Sorong. Suasana Misa berlangsung khidmat dan penuh suka cita, diiringi oleh Paduan Suara dari perwakilan kontingen peserta dari berbagai kabupaten/kota.
Seremonial dilanjutkan di Gedung Graha LUX EX ORIENTE. Acara ini ditandai dengan sambutan dari Kepala Kanwil Kemenag Papua Barat dan Papua Barat Daya, Luksen Jems Mayor, S.Sos., M.A.P., yang turut memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan kegiatan ini.
Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Tambrauw, Alexander Setitit, S.S, menyatakan harapannya agar kontingen Tambrauw dapat mengambil makna mendalam dari ajang ini.
“Saya mengharapkan seluruh Peserta Pesparani Kabupaten Tambrauw menjadikan ajang ini sebagai landasan untuk memperkuat persaudaraan kita sebagai umat Katolik,” harap Alexander Setitit.
Ia melanjutkan, “Semoga dengan adanya PESPARANI ini dapat membuat iman kita bertumbuh dan menjadi lebih teguh.”
Senada dengan Kepala Kantor, Agustina Asem selaku Penyelenggara Katolik Kemenag Tambrauw, turut berpesan kepada para peserta. Ia meminta agar seluruh peserta menjunjung tinggi kebersamaan selama perlombaan dan menjadikan PESPARANI sebagai sarana untuk memperkuat persaudaraan sebagai umat Katolik yang beriman.
Kegiatan pembukaan diakhiri dengan penyematan tanda peserta lomba PESPARANI Katolik pertama di Papua Barat Daya dan dilanjutkan dengan acara makan bersama. PESPARANI pertama ini kini dicatat sebagai tonggak sejarah bagi umat Katolik di PBD.



